Kamis, 08 Desember 2011

WHO is SHE (part 4)

-Author :
Kim Shira (pengarang) dan Kim Rulnia (penulis)

-Main Cast :
Kim Kibum, Kim Shira, Lee Donghae, Kim Rulnia, kyuhyun, Yesung,

-Supporting Cast :
Im Noo Mee (Nova aulia), Park Yun Rhi (wahyuni), Baek Jun Wea (Wafa), Wookie, Sungmin, Ryeewok, Siwon.

-Genre :
Romatic, love, friendship


--------------------------------------

Kira-kira sudah 10 menit mereka duduk bersama tapi mereka saling tak bicara. Noo, wea dan yun tak tau harus membicarakan apa jadi mereka memilih diam. Sedangkan yesung lebih fokus pada majalah ia pegang. Noo, wea dan yun saling pandang.

“eonni, katakanlah sesuatu,” bisik noo kepada wea. Wea menggeleng kecil, “kau saja,” bisiknya pada yun. Yun yang bergidik ngeri, “a.aaniyo,” bisiknya.

“kalau begitu biar aku saja,” kata yes tanpa mengangkat wajahnya dari majalah.
Noo, wea dan yun tersentak dan salah tingkah, mereka tersenyum kecil.

“tak usah tegang begitu,” kata yes lalu tersenyum. “oh ya, kalian kelas berapa?”

“aku kelas 3,” kata wea, “aku kelas 2, sunbae,” kata yun, “aku..aku..kelas 1,” jawab noo.

Yes tersenyum lagi, “oh begitu,” katanya, “sudah punya pacar?”

“anniyo ah,” jawab ketiga yeoja itu serentak.

“wah, padahal kalian yeoja yang manis, kenapa kalian belum punya pacar ?” tanya yes polos. Seketika wajah noo, wea dan yun memanas. “kalo orang yang disukai?” lanjutnya.

Ketiga yeoja itu tesentak, wajah mereka merona sangat merah.

“namja yang kusuka, hmm ada sih …,” kata wea, “tapi dia sulit sekali,” jawab yun, “ne, ada banyak saingan,” lanjut noo lirih.

“memang siapa sih yang kalian suka?” tanya yes. Jantung ketiga yeoja itu berdetak cepat, “i.i..itu..”

Tiba-tiba yes memasang wajah seriusnya, “jangan-jangan kalian menyukai hae, bum dan kyu…”

“MWO YO?!” anniyo ah, itu tidak mungkin !” sentak mereka bersama.

Yes menghembuskan nafas lega, “syukurlah,” lalu tersenyum lagi, “jadi?”

Ketiga yeoja itu saling berpandangan. “aa.aa.aannuu, btw oppa, bagaimana dengan tipe wanitamu, kau suka yang seperti apa?” tanya wea mengalihkan pembicaraan.

Yes menopang dagu, “tipe wanitaku?”

“ah, ii.iiyaa,” jawab wea.

“hmm,” yes menatap langit-langit rumahnya, matanya menerawang, “aku suka wanita yang lucu, pemalu,” katanya seakan membayangkan sesuatu, “aku suka wanita yang begitu aku melihatnya, ada keinginan untuk melindunginya,” dia berhenti sejenak dan memandang ketiga yeoja yang ada didepannya, “aku juga suka wanita yang polos,” kata yes sambil menerawang lagi, “dan kalau bisa dia pandai memasak,” lanjutnya.
“oh, begitu . . .” kata yeoja-yeoja itu sambil menganggukkan kepala.

Ting tong ting tong.

“ah, itu pasti rul dan shi,” kata yes lalu membuka pintu. 

Dugaan yes benar, yang datang itu saeng-saengnya. Mereka segera kedapur dan membereskan barang-barang belanjaan mereka. Sedangkan ketiga yeoja itu, mereka menunduk dalam diam.

“aku tidak lucu, aku tidak polos, aku tidak pandai memasak,” kata wea dalam hati. “semua yang diucapkan bertentangan dengan diriku, ahh,” batin yun. “kenapa yeppa menerawang? Jangan-jangan dia sudah menemukan gadis yang ia sukai,” batin noo.

Pikiran mereka berkecamuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“hai,” sapa rul, “bagaimana?”

Ketiga yeoja itu hanya tersenyum. “anuu rul ah, sepertinya aku harus pulang sekarang,” kata wea. “ne, hari sudah terlalu larut,” kata yun. “a.aku juga, orang tuaku pasti khawatir,” kata noo melanjutkan.

“pulang sekarang? Mau ku antar? Atau oppa ___” kata rul.

“tidak usah,” jawab ketiga yeoja itu. “ngg, gomawo shican, rulnia, kami pulang dulu.”

Suasana hening.

Saat itu semua anggota dirumah sedang tidur, hanya yes yang masih terjaga. Diam-diam dia membuka surat-surat yang diterimanya dari saengnya.

“Im Noo Mee dan Park Yun Rhi ya, hmm, bagaimana ya?” gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.



******


Esok harinya di sekolah.

“kyu, hari ini kita latihan lagi kan?” kata yes sambil menghampiri kyu didepan kelasnya. Kyu mendesah, “kau pergi saja duluan hyung, tugasku banyak sekali.” Yes menatap kyu, “baiklah,” katanya lalu beranjak pergi.”
Yes pun pergi ke ruang musik sendirian, disepanjang koridor para yeoja memperhatikan yes dengan baik. Diruang musik, lagi-lagi tak begitu ramai, hanya ada 2 orang. Yaitu wookie dan seorang namja berambut pirang yang memegang biola.

“dimana bummie?” pikir yes. “hyaa, akhirnya kau datang juga,” kata namja berambut pirang sambil menghampirinya. Yes mengerutkan kening. “

kami sudah menunggumu dari tadi,” kata namja itu lagi. Yes hanya tersenyum bingung. “oh iya, aku belum perkenalkan diri, kenalkan, aku henry lau,” katanya. “kalau yang itu. . .” kata henry sambil menunjuk wookie, “hyaa, perkenalkan dirimu,” kata henry pada wookie.

Wookie menatap yes dan hen bergantian, lalu membungkukkan badannya, “aku wookie, panggil saja begitu.” “aku yesung, bangapseumnida,” jawab yes “wookie bukan nama asli mu kan?” tanya yes.

Wookie menggeleng pelan, “bukan itu nama panggilan, sama sepertimu, yesung bukan nama asli mu kan ?” telak wookie.

Yes mengerutkan keningnya, “kenapa dia bisa tahu? Padahal aku kan sudah bekerja sama dengan guru agar menyebutku yesung dan tidak memanggil nama asliku,” pikir yesung.

Suasana hening sejenak. Henry menatap wook dan yes bergantian, “ahh, kalian sama saja seperti anak kelas 1 yang bernama shican itu, dia memakai nama panggilan juga,” kata hen sambil geleng-geleng kepala.

Yes menatap wook tepat dimatanya, wook menunduk lalu mengalihkan wajahnya.

“hyaa, kita langsung saja olah vokalnya,” kata hen.

“dimana bum?” tanya yes.

“bum? Oh, dia sedang bersama shican, dia memintaku untuk mengiringi lagu kalian, btw dimana kyu?” jawab hen dan kembali bertanya.

“dia punya banyak tugas, sepertinya dia akan datang terlambat,” kata yes. “siwon?”

“dia tidak bisa datang, dia pergi bersama adikku,” jawab wook.

“oh,” kata yes pelan. “baiklah,” kata hen, “kalian olah vokal berdua saja, biar aku yang mengiringi,” yes dan wook menganggguk. “nah, kalian mau lagu apa?” tanya hen.

Yes dan wook saling pandang, “terserah kau saja, lagu apa yang kau mau?” kata yes pada wook.

Wook menunduk malu, “boleh?” tanyanya. “ne,” jawab yes singkat.

“hmm, lagu the one I love, henry kau bisa memainkan lagu itu?” kata wook.

Hen tersenyum, “bisa!” kata nya, “kita mulai yaa.”

Henry mulai menggesekkan biolanya. Alunan lembut lagu ballad itu terdengar indah, tak lama wook masuk menyanyikan bait pertama, lalu disusul yes, kemudian mereka bernyanyi refrain bersama dengan 2 nada berbeda. Ketika wook dan yes bernyanyi, bum dan shi baru saja sampai di ruang musik. Mereka melihat wook dan yes bernyanyi dengan penuh penghayatan, suara mereka benar-benar bagus, musik pengiringnya menyatu dengan mereka. Saat bernyanyi wook dan yes seperti berbicara dengan hati mereka juga. Tak lama kemudian lagu mereka selesai, terdengar suara tepuk tangan, yes, hen dan wook menoleh.

“oppa, kau bagus sekali!” kata shi lalu memeluk yes. “ahh, lihat, aku nyaris menangis,” kata shi lagi sambil mengusap matanya.

Yes tersenyum, “gomawo shican, tapi mereka juga bagus,” kata yes sambil menoleh kearah wook dan hen.

“hyaa sunbae, jeongmal areumdappta,” kata shi.

“ahh, kau berlebihan,” kata hen malu-malu, “oh iya, kau bernama shican kan?” tanya hen.

Shi tersenyum, “ne.” “aku henry lau,” jawab hen, “ne, bangapseumnida.” Kata shi.

“wookie, kau juga, perkenalkan dirimu,” kata yes. Wookie menatap yes sebentar, “aku wookie, panggil saja begitu.”

Shi mengangguk, “ne, suaramu bagus sekali.” kata shi. Wookie tersenyum malu-malu, “gomawo,” katanya pelan.

“iya suaramu bagus,” kata yes datar sambil melihat wook yang terus menunduk.


Tet.tet.tet.tet.


“ah, bel masuk.” sentak shi. “oppa, aku harus kembali ke kelas ku,”

“ah, aku akan mengantarkanmu,” kata bum yang sedari tadi diam.

“bum ah, nanti kau kesini kan?” tanya hen.

“ne, aku kan harus mengiringi kyu dan hyung,” kata bum.

“kalau gitu aku ikut denganmu mengantar shican,” kata hen.

“boleh saja,” kata bum. “kajja,” bum lalu membuka pintu ruang musik.

“tunggu disini ya,” kata hen pada wook dan yes lalu menghilang dibalik pintu.

Shi pun menyusul bum dan hae yang lebih dulu keluar dari ruangan itu. Setelah kepergian mereka, ruang musik langsung sunyi. Yes menatap wook dalam-dalam, wook merasa risih sendiri. Kemudian dia duduk disebuah kursi dan membuka buku teks musiknya. Yes mengikuti, dia duduk di depan wook, menopang dagu dan kembali menatap wook.

Wook cemberut,”hyaa, ada apa denganmu? Jangan menatapku seperti itu !” kata wook kesal.

Yes kembali ke kursinya, kali ini dia memutarkan kursinya sehingga dia duduk membelakangi wook. Wajahnya sedikit memerah karena malu, “ah, babo babo !” gumamnya sambil memukul pelan kepalanya. Dia membuka buku teksnya dan berusaha untuk konsentrasi.

“yesung ah,” panggil wook.

“mwo?” jawab yes tanpa menoleh.

“kau marah padaku?”

“anniyo.”

Wook diam sebentar, “kalau begitu kenapa kau membelakangiku?”

Yesung memutar bola matanya, dan lalu memutar badannya menghadap wook, “sekarang aku tidak membelakangimu, bagaimana ? kau puas ?” kata yes geram.

Wook bengong, sedetik kemudian dia tertawa, “hahahah, astaga, kau ternyata lucu juga ya.”

Yes kegelagapan, “hyaa, kenapa kau tertawa?” tanyanya bingung.

Wook tetap tertawa, “hahaha yesung ah, kau tau wajahmu lucu sekali, seperti wajah orang frustasi, hahaha.”
Yes mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.

“biar aku praktekkan,” kata wook.

Dia mengambil kursi dan duduk membelakangi yes, lalu dengan wajah lucu dan frustasinya dia menoleh kebelakang dan bilang, “sekarang aku tidak membelakangimu, bagaimana? kau puas?”

Yes bengong, sedetik kemudian dia ikut tertawa.

“astaga wookie, wajahmu aneh sekali,” kata yes sambil terus tertawa.

“hyaa, aku itu meniru wajahmu, wajahmu jauh lebih aneh,” kata wook disela-sela tawanya.

“jinjja, aku tidak bisa membayangkan wajahku yang aneh,” kata yes.

Mereka berdua terus tertawa dan saling beradu mengenai wajah siapa yang paling aneh.

“hyaa,” panggil seorang namja, “kenapa kalian tertawa?”

Yes dan wook menoleh kesumber suara, ternyata itu kibum, di belakangnya ada kyu dan hen.

“ah, anniyo ah,” jawab yes sambil tertawa kecil.

“apa yang lucu?” tanya kyu penasaran.

“tidak ada apa-apa,” jawab yes lagi.

Kyu angkat bahu, “baiklah kalau kalian tidak ingin memberitahunya.”

Yes dan wook saling pandang. Yes mengedipkan sebelah matanya tanda isyarat, wook mengangguk dan mengangkat jempolnya.

“kalau begitu, ayo kita latihan lagi, sebentar lagi guru akan datang,” kata bum yang langsung duduk dikursi pianonya. “ne,” jawab hen, kyu, yes dan wook.


*****


Sementara itu di aula, segerombolan yeoja-yeoja berkumpul. Mereka merupakan yeoja-yeoja dari kelas 1 sampai kelas 3. Seorang yeoja berambut pirang berjalan mondar-mandir didepan pintu aula. “kemana mereka? Mereka terlambat !” gerutu yeoja itu.

“Jessica eonni,” sapa yeoja yang lain. “mereka belum datang?”

Jessica menggeleng kesal, “ada apa dengan mereka? Seharusnya, mereka menemuiku 2 hari yang lalu!” erangnya.

“ntah lah eonni,” jawab yeoja yang lainnya.

“argghh !” geram Jessica, “kalau begini data info kita tentang yeppa akan terbengkalai.”

Yeoja itu diam sebentar, “apa jangan-jangan mereka berubah pikiran untuk mendekati yeppa?” tanya yeoja itu polos.

“tidak mungkin !” kata Jessica.

“kenapa tidak mungkin?” tanya yeoja itu lagi.

Jessica tersenyum licik, “kau tau kan peraturan kita? Tidak ada yang boleh menikmati yeppa sendirian apalagi berniat untuk menjadi pacarnya, karena yeppa itu milik bersama, dan mereka juga tau itu.” Jessica mengalihkan wajahnya, “kalau mereka masih berani melakukannya, mereka akan dapat balasannya,” kata Jessica lagi. “noo mee, yun ri, dan junwea.”

Tak lama kemudian, tiga orang yeoja berlari menuju aula.

“Jessica eonni,” teriak ketiga nya. Jessica menoleh, “noo ah, yun ah, wea ah, kalian terlambat sekali !” “mianhae,” kata ketiganya. “mana datanya?” tanya Jessica. Wea menyerahkan beberapa kertas doublefolio pada Jessica. “ini info yang kami dapat selama kami menyelidiki yeppa.” Jes membaca data itu sebentar, lalu tersenyum. “bagus sekali chingu,” katanya. Noo, yun dan wea tersenyum lega, “syukurlah, aku hampir saja berburuk sangka pada kalian,” kata jes lagi.

“maksudmu? Tanya wea . “ku kira karena terus berada didekat yeppa kalian berubah pikiran, ah ternyata hanya pikiranku saja,” jawab jes.

Noo , Wea dan Yun salaing memandang dan menggigit bibir mereka.

“a.aa.aanu eonni, kenapa kita tidak boleh mendekati yeppa?” tanya noo.

“tidak boleh !” jawab jes singkat. “waeyo?” tanya yun.

“yeppa itu milik bersama, kalian ingat itu, kalau dia dekat dengan seorang yeoja dia tak kan lagi menjadi milik kita, tugas kita adalah melindungi yeppa sampai dia benar-benar mendapatkan gadis yang pantas untuknya !” tegas jes.

Ketiga yeoja itu saling pandang kembali.

“t.tt.ttaappiii, kalau yeoja itu benar-benar tulus menyukai yeppa, bagaimana?” tanya noo lagi.

Jes menatap noo, “hyaa !” geramnya, “kau tau, kita berkumpul disini karena kita benar-benar tulus menyukai yeppa ! tapi apa kau merasa pantas untuk menjadi yeojanya ha, bagaimana?” kata jes membentak.

Noo menunduk takut, “hyaa dia hanya bertanya, tak usah semarah itu,” kata wea sambil merangkul noo. Jes diam sebentar, “ah, mianhae noo ah,” kata jes nya pelan.

Noo mengangguk, “yasudahlah, kita lanjutkan saja pertemuan kita hari ini,” kata jes. “tugas kalian minggu lalu bagus, gomawo. Sekarang kita akan mencari orang untuk tugas minggu ini dan minggu depan.” kata jes lagi.

Noo, wea dan yun memucat, “mwo yo? Maksudmu, tugas kita selesai?” kata yun.

Jes mengangguk. Noo, wea dan yun saling pandang lagi.

“ah, aannuu, eonni, bagaimana untuk tugas mengambil info lebih baik biar kami saja yang menangani,” kata yun.

“kenapa begitu?” tanya jes.

“maksudku, kami sudah tau keseharian yeppa, jadi jika kami yang bekerja mencari informasi tentang yeppa akan lebih mudah didapat.” jawab yun jelas.

Jes diam sebentar, “kalian yakin? Kalian tidak kelelahan?” tanyanya.

“tidak, sama sekali tidak.” jawab ketiga yeoja itu serentak.

Jes mengerutkan keningnya, “baiklah kalau begitu.”

Noo, wea dan yun tersenyum lega. Jes lalu berjalan menuju podium, seketika aula besar itu menjadi sunyi. Jes mengatakan kalimat pembuka dan info-info tentang yeppa sementara. Yeoja-yeoja yang mendengarnya teriak histeris karena kagum. Noo, wea dan yun duduk dibarisan belakang, mereka tertunduk dalam diam.

Beberapa lama kemudian, pertemuan berakhir, yeoja-yeoja itu berhamburan dan menuju kekelasnya masing-masing. Tapi tidak dengan noo, wea dan yun, mereka tidak langsung ke kelas, melainkan duduk-duduk dulu dihalaman sekolah. Disana yang mereka lakukan hanya menopang dagu dan diam, berkecamuk dengan pikiran mereka sendiri. Perkataan jes terngiang-ngiang dikepala mereka.

“bagaimana ini?” batin mereka, semua terasa sulit, “ahh, ternyata menyukai yeppa itu sesulit ini.”


******


Rul baru saja keluar dari toilet ketika dia melihat noo, yun dan wea yang sedang melamun ditaman sekolah. Karena penasaran dia pun menghampiri mereka.

“annyeong,” sapa rul dan duduk di depan mereka.

Mereka seperti kaget, “aahh, rul ah, annyeong,” kata mereka bertiga.

“kalian terlihat seperti tidak sehat,” kata rul.

“goenchana,” jawab wea. “ada masalah ya?” tanya rul ramah. “anniyo ah !” kata yun pelan. “kalau begitu kenapa kalian tidak bersemangat seperti biasanya?” tanya rul lagi. Ketiga yeoja itu menggeleng lemah. Rul tersenyum, “baiklah, jika kalian tak ingin cerita. Tidak apa-apa,” kata rul.

Ketiga yeoja itu diam, tiba-tiba yun memanggil.

“rul ah,” panggil yun.  “ne,” jawab rul. “mworago?” “aku ingin bertanya,” kata yun. “mworago?” kata rul lagi. “hmmmm,” kata yun bergumam, “itu mm, hae dan bum sunbae, dulu mereka punya fansclub juga kan?

Rul mengerutkan keningnya, “ne, waeyo?”

“kau tau bagaimana club itu ?” tanya wea.

“hm, yaa, awalnya aku pikir sedikit menyeramkan,” jawab rul.

“lalu, tanggapan hae dan bum tentang fansclub bagaimana?” kata noo. Rul tampak berpikir sejenak, “haeppa, malah menganggap club itu lucu, sedangkan bumppa tak banyak berkomentar,” jawab rul menjelaskan.

Yun mengangguk-angguk sambil bergumam.

“a.aa.aanu rul ah, mianhae sebelumnya, umm,” kata yun. “ne?” jawab rul. “bagaimana kau bisa mendapatkan hae sunbae?” tanya yun. “mwo ?” kata rul kebingungan. “maukah kau menceritakannya pada kami?” kata yun.

Rul menatap ketiga yeoja itu bingung sambil mengerutkan keningnya. Sedangkan ketiga yeoja itu tertunduk lesu.

“kalian benar-benar ingin mengetahuinya?” kata rul lagi. “ne,” jawab ketiga yeoja itu bersamaan.
Rul menghelakan napas, “baiklah aku akan cerita, sebenarnya ini juga cerita yang biasa.” kata rul.
Ketiga yeoja itu mengangguk-angguk antusias menunggu rul berkata-kata.

“yah, awalnya aku hanya menyukai haeppa, tapi aku terlalu malu untuk ikut ke club atau mencoba mendekati haeppa. Jadi perasaanku hanya kusimpan dalam hatiku sendiri, yah .. dan aku hanya menceritakan apa yang kurasakan kepada saengku saja, shican.” cerita rul panjang lebar.

Ketiga yeoja itu mengangguk-angguk sambil bergumam, “terus terus?”

Rul menerawang, “aku sering memperhatikan haeppa, memahami bagaimana dia berbicara, bagaimana sifatnya dan apa saja yang dia suka, tapi lagi-lagi itu ku simpan untuk diriku saja dibuku harianku, aku tak pernah berpikir apalagi berharap agar dia menyukaiku juga saat itu, yang ku tau dia benar-benar populer.”

“lalu ?” tanya noo buru-buru ingin tau kelanjutannya.

“suatu hari saat aku sedang menunggu shican, tiba-tiba dia menghampiriku, aku sangat kaget, lalu aku buru-buru pulang dan meninggalkan buku harianku, ternyata haeppa mengambilnya dan membacanya. Malam harinya dia ke rumahku dan menyatakan cinta.” kata rul sambil tersenyum malu.

“begitu?” tanya yeoja-yeoja itu makin penasaran.

“ternyata tanpa kusadari, dia juga menyukaiku, tapi dia hanya diam saja, dia hanya cerita sama bumppa, dia pikir aku tidak menyukainya karena aku hanya diam. Ternyata jalan pikirnya sama denganku,” rul tersenyum geli.

“hyaa, ternyata kalian saling menyukai,” kata mereka pelan. “lalu bagaimana caramu mengatasi club hae sunbae itu?”

Rul menopang dagunya, “yah, saat itu memang masa-masa yang sulit untukku, saat haeppa menggandeng tanganku pertama kali dan aku dilihat oleh banyak yeoja dengan tatapan yang menyeramkan, aku takut sekali,” kata rul. “yah, suatu hari dimana aku benar-benar takut, haeppa berdiri di tengah lapangan menghampiri club itu, dia bilang kalau dia benar-benar menyukaiku dan tak ingin mereka menyakitiku, setelah itu club-club itu menjadi temanku, dan aku pun tak pernah takut lagi.”

Ketiga yeoja itu tertunduk.

“satu hal yang aku pelajari dari cerita ini,” sambung rul lagi.

“apa itu?” tanya noo.

Rul tersenyum, “selama haeppa disisiku, aku tidak akan pernah takut, karena aku tau, dia pasti melindungiku.”

Hening sejenak. Noo, wea dan yun diam tak bersuara menatap rul yang sedang tersenyum. Kemudian mereka menunduk lagi. Cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya tiba-tiba noo berdiri memecah keheningan.

“baiklah, aku mengerti,” kata noo lalu beranjak pergi.

“sepertinya aku juga haarus pergi,” kata wea.

“gomawo rul ah untuk ceritamu,” kata yun.

Rul mengangguk.

“aku pergi dulu rul ah, annyeong,” kata yun.


*******



tunggu part 5 nya ya chingu , gomawo ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar